Si Baju Merah inilah yang membuat hari-hariku berlalu begitu cepat. Secepat berat badan menyusut kembali ke masa SMA (hahahahaa-tertawa bahagia). Mama Papa Nera akan berusaha selalu ada dan mendampingimu. Nera, namamu berarti terang. Jadilah terang selalu untuk kami, untuk sesamamu.
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu.
Kehadiran Nera memberi warna baru dalam hidup saya. Saya belajar banyak. Menjadi ibu dan bekerja membuat saya harus rela untuk tidak selalu ada secara fisik mengasuh Nera. Pilihan ini tentu saja melewati banyak pertimbangan dan permenungan. Bukan hal yang mudah untuk memilih tetap bekerja dan menerima bantuan ibu saya (kami panggil Uti) untuk mengasuh Nera. Saya memang anak tunggal, anak satu-satunya. Namun, saya diajarkan untuk bisa mandiri dan saya (dulu) berkeinginan untuk tidak merepotkan Uti setelah saya berkeluarga. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang saya rencanakan. Keluarga muda memang ternyata harus berjuang, butuh berjuang. Saya dan Papa Nera sama-sama berasal bukan dari keluarga berada. Kami harus bekerja sama untuk bisa meraih keadaan yang kami inginkan. Akhirnya kami sepakat meminta bantuan Uti, seminimal mungkin (minimal itu ternyata tetap banyak). Kami meminta bantuan Uti untuk mengasuh Nera selama saya dan Papa Nera bekerja. Kami tidak punya asisten rumah tangga (ART). Jadi, semua pekerjaan rumah (dan pekerjaan kantor karena kami sekantor) kami bagi bersama. Saya kebagian tugas menyusui (kewajiban yang hanya saya yang bisa kerjakan), cuci steril semua perlengkapan botol dot, pompa ASI, peralatan makan (saat ini Nera sudah mulai MPASI), memasak dan menyiapkan makanan Nera, mencuci dan setrika baju kerja (baju yang tidak masuk ke laundry), dan kadang kala masak. Papa Nera bertugas cuci baju Nera, sapu dan pel rumah, beres-beres dan bersih-bersih rumah, urusan motor dan mobil. Kami juga sepakat, ketika weekend, seminimal mungkin Uti tidak direpotkan. Artinya, kalau Saya atau Papa Nera mau mengerjakan pekerjaan rumah, kami gantian momong dan mengajak Nera main atau jalan-jalan ke sekitar rumah. Dulu, sebelum Nera masuk masa makan, setiap pagi Saya dan Papa Nera gantian memandikan dan mendandani Nera. Kalau Papa memandikan, Mama mendandani, dan sebaliknya. Sekarang, setelah masuk masa MPASI, pagi hari saya harus menyiapkan sarapan/makanan Nera, maka Papa yang bertugas memandikan dan mendandani Nera. Malam hari, setibanya kami di rumah, saya dan Papa Nera bergantian mandi dan makan dan salah satu dari kami main-main dengan Nera. Selepas Nera tidur (bagian ini yg sekarang, eeerrrrr, lamaa menidurkan Nera), Saya cuci steril botol dot dan pompa sambil kukus makanan lalu dilanjutkan membuat pure untuk besok pagi. Papa Nera biasanya mencuci baju Nera atau kalau Nera masih mau main, Papa Nera yang punya jatah main dengan Nera, membacakan buku, berdoa, dan menidurkan. Saya sangat mengapresiasi Papa Nera. Dia adalah lelaki yang egaliter, mau diajak berbagi pekerjaan rumah, dan mengasuh anak (kalau nggak egaliter mana mau saya diperistri, hehehe).
Ternyata, Nera memberi kami energi yang lebih. Saat rasa lelah, lapar, dan bad mood hilang seketika melihat senyum lebarnya ketika Saya dan Papa Nera sampai di rumah. Tetaplah menjadi terang Kami ya, Nak!
Jakarta, Januari 2017
Mama Nera
