Cerita Kehamilan eps 1 – Hamil dengan Pengentalan Darah

Disclaimer: “Setiap kehamilan adalah cerita personal, unik, dan lain antara satu kehamilan dengan kehamilan lain, bahkan dua kali kehamilan pada ibu yang sama. Cerita ini adalah sharing pengalaman pribadi dan tidak ditujukan sebagai acuan medis.”

Tiga bulan setelah menikah, saya mendapati diri saya terlambat menstruasi. Setelah kami memastikan kehamilan saya di klinik dekat rumah (usia kandungan kurang lebih 8 minggu), saya berinisiatif untuk memeriksakan kembali kehamilan saya di RS PGI Cikini, tempat saya biasa berobat. Saat itu saya hanya berpikir sederhana, saya belum pernah tes darah lengkap sebelumnya. Biasa, pikiran ibu hamil muda, ada saja yang ditakutkan, toksoplasma, rubela, ini lah itu lah (hehehe – nyengir kuda). Kemudian saya memeriksakan diri ke RS PGI Cikini dengan dr. Seindy, Sp.OG. Saya sengaja memilih dokter yang masih muda. Dokter Seindy, kalau saya perkirakan umurnya belum ada 40 tahun. Berdasarkan saran teman saya, yang juga dokter (akan ambil spesialis kandungan) dr. Adhyanovic, dokter muda biasanya lebih enak diajak diskusi, penjelasannya lengkap, kalau dokter sudah senior, biasanya hanya bilang “ok nggak ada masalah,” persis dokter klinik sebelumnya.

Pada pemeriksaan pertama dengan dr. Seindy, hasil periksa sama dengan di klinik, saya positif hamil, usia kandungan diperkirakan 8 minggu 2 hari. Saat itu saya minta rujukan dr. Seindy untuk dapat dilakukan tes darah karena saya belum pernah di tes. Lalu dr. Seindy mengiyakan, dan menjelaskan apa saja yang akan dilihat dari tes darah nantinya, seperti Toksoplasma, Varicella, Rubela, gula darah, HIV (seperti anjuran Gubernur DKI Jakarta kala itu, Pak Ahok). Kemudian dr. Seindy mengatakan, ada satu hal lagi yang akan dilihat yaitu ACA, yang sering kali menjadi penyebab keguguran atau janin gagal berkembang, yang belum banyak dilakukan tes atau pencegahan. Kala itu, saya hanya mengiyakan saja, toh seorang dokter pasti lebih punya pengalaman daripada kita pasiennya. Pengambilan sampel darah dilakukan sesaat setelah saya periksa, di lab darah RS PGI Cikini. Akan tetapi, karena banyaknya parameter yang akan dilihat, hasilnya baru bisa diambil dua minggu setelahnya. Untungna dr. Seindy mau melayani konsul lewat whatsapp (tapi terbatas untuk beberapa hal saja). “Hasil tes darah bisa dikonsulkan lewat WA dulu kalau Ibu penasaran,” katanya. Saat hasil darah keluar, saya segera konsul dengan dr. Seindy lewat WA.”ACA-nya positif, ada HSV. Sebaiknya konsul ke dr. Rebeka (Napitupulu) di spesialis penyakit dalam,” Lah apa pula lah itu?

Tes ACA – (Anti-Cardiolipin Antibodies) dan diagnosis antiphospholipid syndrome (APS)

Berhubung dr. Rebeka sedang cuti, saya lalu dirujuk ke dr. Susilo Prihantoro, Sp. PD. Beliau memberikan penjelasan dengan bahasa awam tentang tes ACA. Tes ACA adalah tes darah yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya antibodi dalam darah yang terbentuk berlebihan dan menyerang kardiolipin yang terdapat di (membran) sel, sehingga menyebabkan sel-sel darah lebih cepat mengalami pembekuan. Sebenarnya untuk tegak diagnosis APS (dikatakan mengidap APS), bagi ibu hamil, ada syarat klinisnya, yaitu pernah mengalami keguguran (sekali atau berulang) saat usai kandungan di bawah 20 minggu atau janin gagal tumbuh dan meninggal dalam kandungan ketika usia kandungan di atas 20 minggu. Saat itu, dr. Susilo pun menanyakan hal tersebut dan saya menjawab bahwa ini lah kehamilan pertama saya. Dokter Susilo kala itu lalu melihat hasil tes darah saya. Dalam tes darah tersebut terdapat parameter yang disebut D-Dimer yang menurut dokter D-Dimer tersebut tergolong tinggi untuk ibu hamil trimester 1 dan angka itu pasti akan naik seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Dalam konsultasi pertama tersebut, saya dijelaskan beberapa hal. Beliau menduga saya mengidap pengentalan darah, yaitu darah saya cenderung lebih cepat mengental daripada darah orang normal/ibu hamil normal pada umumnya. Beliau menjelaskan bagaimana pengentalan darah saya membawa risiko bagi perkembangan janin. Janin mendapat asupan makanan lewat darah ibu yang melewati plasenta dan sampai ke janin melalui tali pusatnya. Plasenta ini semacam saringan dengan lubang-lubang yang amat sangat tipis sekali (udah amat, sangat, sekali) yang dilewati terus menerus oleh darah saya. Nah, karena darah saya lebih cepat mengental dari yang seharusnya, akibatnya lubang-lubang di plasenta ini mudah tertutup oleh bekuan darah. Sehingga seiring waktu, darah yang diharapkan membawa oksigen dan nutrisi kepada janin tidak dapat sampai ke janin karena tertutup bekuan darah. Karena ini kehamilan pertama saya, serta tidak mungkin menunggu parameter klinis (keguguran) terjadi (ya karena ini yang mau dicegah kan) dr. Susilo kemudian meresepkan obat oral yaitu trombo aspilet untuk menurunkan kecepatan pembekuan darah/mengurangi pembekuan darah, yang diminum selama satu bulan dan kemudian setelah satu bulan, saya harus tes darah lagi yaitu APTT untuk mengetahui laju pembekuan darah. Apabila nilai APTT bagus, maka saya hanya perlu minum obat oral tersebut, tetapi apabila tidak, maka pilihannya adalah suntik pengencer darah.

APS dan Suntik Pengencer Darah

Genap lah satu bulan saya meminum aspilet. Saat kembali untuk kontrol, usia kandungan saya sekitar 3 bulan. Tes APTT sudah ada di tangan saya dan saatnya kontrol ke dokter penyakit dalam. ((Oiya, sebelumnya saya kontrol ke dokter kandungan dan hasilnya baik)). Yak! Segera setelah dr. Susilo melihat hasil tes APTT saya, beliau menyampaikan bahwa laju pembekuan darah saya tetap tinggi, dan suntik pengencer darah merupakan hal yang harus dilakukan. Gaya menyampaikannya: “wah, tinggi ini, harus suntik ya,” perkataan yang sudah saya siapkan untuk dengar dari sebulan yang lalu. Eh suami saya (wajar sih) bilang begini: “harus ya Dok? Kalau nggak gimana?” jawab dokter, ”ya tunggu keguguran aja Pak,” (dalam hati saya, ini suami ngapain pakai tanya begitu) (fast forward, setelah itu suami nggak mau lagi temani kontrol ke dr. Susilo, hahahaha). Pengencer darah yang diresepkan kepada saya adalah Inviclot Heparin Sodium Injection 5.000 IU/mL dan disuntikkan rutin tiap 12 jam (dengan toleransi keterlambatan 1 jam) sebanyak 1mL setiap kali suntik. Dokter Susilo pun mengajarkan kepada saya bagaimana caranya menyuntik diri sendiri. Suntik harus dilakukan pada perut, dengan harapan dekat dengan plasenta sehingga efeknya lebih cepat. Caranya, siapkan suntikan yang diisi dengan heparin, bersihkan bagian perut yang akan disuntik dengan kapas alkohol, cubit besar bagian perut tersebut, lalu tusukkan jarum suntik dan injek, cabut suntikan, tutup bekasna dengan kapas alkohol dan plester. Sakit? Bagi yang pernah disengat lebah, trust me, lebih sakit disengat lebah. Awalnya ada perasaan sedih dan pertanyaan besar, mengapa (hal ini) terjadi pada saya. Tapi lama kelamaan perasaan sedih berganti dengan optimisme bahwa saya dan suami, kami, bisa melalui semua ini. Suntik saya lakukan sendiri karena saya merasa kalau disuntik orang lain (contohnya dokter/suster) rasanya lebih sakit daripada kalau saya suntik sendiri. Mungkin karena kalau disuntik orang bagaimana pun juga kita tetap ada rasa kaget sedangkan kalau suntik sendiri (saya merasa) lebih siap. Suami tetap menemani setiap suntik, pagi sekitar jam 4 atau jam 5 dan sore jam 16 atau 17. Dia menyiapkan suntikan, membuka alkohol, dan kadang menyiapkan kompres es kalau banyak memar yang muncul di perut. Oh ya, bekas suntik di perut itu kadang-kadang menjadi memar, biru. Suntik-menyuntik ini harus dilalui sampai menjelang persalinan. Berarti sekitar 6 bulan saya berkawan dengan jarum suntik. Kemana-mana bawaannya kotak obat berisi heparin, jarum suntik, dan alkohol. Ke kantor, meeting, di jalan, ke mall. Pernah lho saya menepi di jalan tol untuk suntik. To all APS mom to be out there, every stab of needle will make you stronger.

Perkembangan Janin dan Persalinan

Penting bagi ibu hamil dengan APS untuk selalu memantau perkembangan janin dan berkonsultasi dengan dua dokter spesialis, yaitu dokter kandungan dan penyakit dalam/darah. Hal-hal yang dicek oleh dokter kandungan saya, dr. Seindy antara lain: tekanan darah saya, berat badan janin, perkembangan organ janin, volume air ketuban, aliran darah dari ibu ke janin dan sebaliknya, di akhir kehamilan: keadaan air ketuban (keruh atau tidak), keadaan plasenta (mengalami pengapuran atau tidak). Dari penjelasan beliau, hal yang harus diwaspadai: (1) aliran darah dari ibu ke janin, untuk mengetahui efektivitas terapi obat-obatan yang diberikan oleh dr. Susilo; (2) kenaikan berat badan janin, sebagai parameter asupan nutrisi janin; (3) plasenta, untuk mengetahui apakah plasenta mengalami pengapuran atau tidak, sebagai akibat penumpukan bekuan darah; (4) tekanan darah ibu, karena penderita APS rawan tekanan darah tinggi mendadak akibat adanya sumbatan bekuan darah pada pembuluh.

Dari hal-hal hasil evaluasi dokter kandungan (yang pasti dituliskan di rekam medis juga) saya sampaikan kepada dokter penyakit dalam. Jadi, biasanya saya kontrol dulu ke dokter kandungan baru kemudian ke dokter penyakit dalam. Oleh dokter penyakit dalam, terapi obat aspilet dan suntik heparin diteruskan. Saya kemudian banyak-banyak mencari tahu tentang persalinan ibu-ibu dengan APS. Saat itu saya ingiiiiiin sekali melahirkan secara per vaginam. Maklum, anak pertama. Tetapi saya sudah bersiap kalau memang harus secara sectio. Saya mengutarakan keinginan saya untuk melahirkan per vaginam dengan dokter kandungan. Kata dr. Seindy, selama keadaan janin dan ibu sehat, tidak ada halangan seperti letak plasenta, posisi janin, berat janin cukup, lilitan tali pusat (waktu itu ada lilitan 2 kali di leher tapi masih cukup longgar), bisa saja melahirkan per vaginam. Akan tetapi, hal ini harus dikonsultasikan dengan dr. Susilo sebagai dokter penyakit dalam, tentang bagaimana amannya terkait obat yang saya konsumsi merupakan obat pengencer darah. Memasuki akhir trimester 3, saya konsultasi dengan dr. Susilo terkait rencana melahirkan. Beliau mengatakan bahwa mungkin saja melahirkan normal, asal dokter kandungan (dr. Seindy) memperbolehkan. Saya menyampaikan, selama ini konsultasi keadaan janin dan posisi janin masih memungkinkan saya untuk melahirkan normal. Kemudian dr. Susilo menjelaskan bahwa untuk obat oral (aspilet), karena obat oral tersebut memiliki efek yang lama sejak dikonsumsi, yaitu sekitar 2-3 hari sejak dikonsumsi, maka aspilet harus dihentikan konsumsinya sekitar 5 (lima) hari sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL), sedangkan obat suntik heparin diteruskan sampai jelang persalinan, atau ketika tanda-tanda kontraksi teratur sudah dirasakan. Saya mengungkapkan kekhawatiran saya mengenai kemungkinan pendarahan (karena yg obatnya kan pengencer darah). Kata dr. Susilo (dan dr. Seindy pula), “dari ibu mulai merasakan kontraksi teratur atau ketika dicek bukaan 1, sampai ke bukaan lengkap (10) itu lama, apalagi anak pertama, bisa lebih dari 12 jam. Sedangkan efek obat suntik itu hanya bertahan 12 jam. Kalau mau lebih aman ya section. Silakan dikonsul lagi dengan dr. Seindy,” Lalu saya banyak diskusi dengan dr. Seindy juga baca-baca buku persalinan. Dengan dukungan suami, saya memantapkan hati apabila tidak ada hal mengkhawatirkan, saya mau melahirkan per vaginam. Banyak hal yang saya lakukan untuk mencapai kesiapan fisik dan mental (mungkin akan ditulis dalam tulisan selanjutnya), menyiapkan fisik agar memiliki stamina, pernapasan, kekuatan, dan ketahanan menghadapi rasa tidak nyaman selama proses persalinan, serta menyiapkan mental dan psikologi agar semakin niteni atau mengenal diri dan alarm tubuh, lebih sabar, dan tidak mudah panik jelang persalinan.

Minggu ke-38 usia kandungan saya jatuh di tanggal 29 Juni 2016, itu perkiraan HPL yang bisa mundur sampai maksimal minggu ke-40. Tanggal 25 Juni 2016 saya mulai lepas obat oral aspilet, tersisa kewajiban suntik menyuntik setiap 12 jam sekali. Sampai dengan tanggal 29 Juni 2016 belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Tapi firasat saya, anak saya lahir tidak sampai usia kandungan 40 minggu. Saya sudah mulai cuti kantor. Setiap hari setidaknya 15 menit saya lakukan prenatal yoga atau sekedar duduk di gym ball. Tanggal 2 Juli, hari Sabtu, saya masih kontrol ke dokter kandungan. Posisi bayi aman, sudah masuk panggul, lilitan di leher masih aman, tetapi plasenta mulai agak berkapur sehingga kalau sampai minggu ke-40 belum ada tanda-tanda melahirkan, saya harus bersiap operasi sesar. Hari Minggu subuh, ternyata saya mulai merasakan kontraksi, belum teratur tapi jarak antar kontraksi berdekatan. Flek sudah ada tapi sedikit. Waktu itu saya masih suntik heparin. Tetapi untuk memastikan sudah ada bukaan atau belum, saya cek di klinik bidan di dekat rumah. Ternyata belum ada bukaan. Hari Minggu itu saya masih suntik heparin dua kali. Hari Senin pagi pun demikian, saya masih suntik heparin subuh, paginya cek di klinik belum bukaan 1 tapi sudah ada bukaan sedikit. Senin sore saya masih suntik heparin. Selama hari Minggu-Senin tersebut saya perbanyak jalan kaki, duduk di gym ball, jongkok, pokoknya selama masih bisa tahan kontraksi, saya lakukan aktivitas seperti biasa. Hari Senin itu saya suntik terakhir jam 16 sore. Ternyata setelah magrib saya tidak kuat menahan kontraksi. Kami beberes rumah dan persiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke RS lalu pukul 21 malam kami menuju RS. Jaraknya jauh, rumah saya di Tangerang sedangkan RS di Jakarta Pusat. Untungnya saat itu jelang lebaran, sehingga jalanan lengang. Tiba di RS pukul 23 malam, mucus sudah keluar. Cek oleh bidan jaga sudah bukaan 3, tapi saya dimarahi kenapa tadi sore masih suntik (lha kan nggak tahu kalau sudah mau bukaan 3) dan bidan juga bertanya mengapa melahirkan normal sedangkan ada APS. Saya jawab, saya sudah konsultasi dengan dr. Seindy dan dr. Susilo kata beliau-beliau tidak apa-apa. Intinya para bidan mengkhawatirkan apabila ada pendarahan. Tapi saya kuatkan mental. (Skip bagian teriak-teriak kontraksi, hehehe). Pukul 6 pagi hari Selasa, bukaan lengkap, dr. Seindy sudah hadir dan saya mulai mengejan. Ternyata semua pelajaran di kelas persiapan melahirkan dan buku-buku yang dibaca lupaaaa semua pas praktek saudara-saudaraaaa, hahahaa.. Berkali-kali mengejan, bayinya tak kunjung keluar, dan sudah 30 menit mengejan, hampir habis dayaku (haha). Dokter sudah menyiapkan alat ekstraksi alias vakum. Lalu papanya si bayi berbisik di perut, “ayo dek keluar dong, kalau nggak disedot tuh sama om dokter.” lalu saya mengejan (harapannya mengejan yg terakhir). Bidan pun membantu dengan mendorong perut. Daaan voilaaaaaa keluarlah si bayi yang ternyata lilitan di badannya tambah 1 seperti selempang putri Indonesia. Padahal kontrol hari Sabtu nggak ada lhoo. Bahagia tak terkira. Tadinya kami dan dr. Seindy sudah sepakat melakukan penundaan pemotongan tali pusat, tetapi ternyata keadaan tali pusat si bayi tidak bagus. Diameternya besar-kecil-besar-kecil dan warnanya tidak bagus. Lalu suami sepakat untuk langsung dipotong saja, bayi dibersihkan pernapasannya, dan dilakukan Inisiasi Menyusui Dini.

Mengingat perjalanan kehamilan, bayi kami mau kami namai Heparina Seindy Susilowati, hahaha. Tapi karena satu dan lain hal, akhirna kami namai Maria Nera Gayatri Dandung 🙂

 

Jakarta, Februari 2017

Mama Nera

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

litanidandung

Keluarga kecil yang (sementara ini) terdiri dari Papa Nera, Mama Nera, dan Anak Nera. Berbagi cerita untuk semua.

2 tanggapan untuk “Cerita Kehamilan eps 1 – Hamil dengan Pengentalan Darah”

  1. ceritanya runtun dan enak dibaca mom…semoga mom dan baby sehat terus yaa

    saya ada pengalaman keguguran di week 8, 6 bulan kemudian hamil lagi dan didiagnosis defisiensi AT3 serta defisiensi protein S, singkatnya APS seperti mom sampaikan. Namun setelah perawatan 3 minggu, baby belum selamat shg saya gugur utk 2x nya.

    Dr Rebekka dan Dr Siendy menyampaikan bahwa asal darah saya diterapi min 3 bulan sebelum hamil, harusnya tdk ada mslh utk kehamilan berikutnya.
    Tadinya down krn membayangkan 9 bulan harus suntik heparin di perut tiap hr 2x. Tapi cerita mom sangat menguatkan 🙂

    apalagi Mom cerita kalau survivor APS seperti kita bisa melahirkan normal, sungguh memberi angin sejuk.

    Terima kasih ceritanya ya mom..sehat selalu 🙂

    Suka

Tinggalkan komentar